Tuesday, 28 November 2017

MAKALAH SEJARAH SENI MUSIK IRINGAN TARI DEWI PERWIRA KHAS PURBALINGGA

BAB 1
LATAR BELAKANG
Kabupaten Purbalingga, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Purbalingga. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Pemalang di utara, Kabupaten Banjarnegara di timur dan selatan, serta Kabupaten Banyumas di barat dan selatan. Dalam buku Babad dan Sejarah Purbalingga, Purbalingga memiliki nilai kesejarahan sendiri. Nama Purbalingga sangat didasari nilai budaya klasik. Kata Purbalingga berasal dari perpaduan antara kata purba dan lingga. Purba merujuk pada kata purwa. Yang artinya, dahulu, dimuka, permulaan atau timur. Sementara lingga memiliki arti tanda atau arca. Jadi secara harfiah Purbalingga berarti arca purba atau arca kuno. Saat ini Purbalingga dikenal dengan julukan kota perwira.
Purbalingga memiliki banyak sekali kesenian – kesenian khasnya. Contohnya tarian Dewi Perwira, tarian Dewi Perwira merupakan kesenian khas daerah Purbalingga dan kesenian ini biasanya digunakan acara hari ulang tahun Kabupaten Purbalingga dan juga acara Pesta Rakyat Bralingmascakeb. Fungsi pada kesenian Dewi Perwira ini sebagai hiburan.Tarian dewi Perwira menggambarkan perempuan yang energik dan memiliki sikap seorang perwira seperti julukan kota Purbalingga yaitu Purbalingga Perwira.




BAB II
RUMUSAN MASALAH
1.      Apa itu Kesenian Tari Dewi Perwira?
2.      Alat musik apa saja yang dipakai untuk mengiringi Tari Dewi Perwira ?
3.      Bagaimana eksistensi dari Tari Dewi Perwira di Kabupaten Purbalingga?
4.      Bagaimana eksistensi Alat musik Calung?













BAB III
REFERENSI
1.      BUKU FUNDAMENTAL PERSEPSI MUSIK ( oleh Teguh Budiawan, S.Pd)
a.       Aristoteles
Seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam
b.      Herbert Read (1962)
 mengatakan bahwa lahirnya sebuah karya seni melalui beberapa tahapan sebagai suatu proses:
Tahap pertama, pengamatan kualitas-kualitas bahan seperti tekstur, warna dan banyak lagi kualitas fisik lainnya yang sulit untuk didifinisikan
Tahap kedua, adanya penyusunan hasil dari pengamatan kualitas tadi dan menatanya menjadi suatu susunan.
Tahap ketiga, proses suatu objektifikasi dari tahapan-tahapan di atas yang berhubungan dengan keadaan sebelumnya. Keindahan yang berakhir pada tahapan pertama belum dapat disebut seni, karena seni jauh telah melangkah ke arah emosi atau perasaan. Seni telah mengarah pada ungkapan sebagai “pengekspresian” dengan tujuan untuk komunikasi perasaan







c.       Jean Francois Lyotard (1924-1988), tokoh post-modern akhir abad ke-20,
menghakekati seni sebagai intensitas energik. Menurut pendapatnya, seni sebagaimana dengan filsafat tidak terkait dengan permasalahan makna, identitas, dan kebenaran. Energi seni adalah dorongan yang tidak dikendalikan oleh nalar maupun kesadaran. Selain mengandung kapasitas yang tak ternalarkan dan terwujudkan, seni juga memiliki daya ledak yang tinggi yang mampu membuat peristiwa. Oleh karena itu, seni sebaiknya tidak menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun sebaliknya, mengikuti daya energiknya untuk mencapai keluhuran (sublimitas).
2.      SENI BUDAYA SMA/MA SMK/MAK Kelas XI Semester 1 Kurikulum 2013 (KEMENDIKBUD)
Secara psikologis pengalaman pengindraan karya seni itu berurutan
dari sensasi (reaksi panca indra kita mengamati seni), emosi (rasa
keindahan), impresi (kesan pencerapan), interpretasi (penafsiran makna
seni), apresiasi (menerima dan menghargai makna seni, dan evaluasi
(menyimpulkan nilai seni). Aktivitas ini berlangsung ketika seseorang
mengindra karya seni, biasanya sensasi tersebut diikuti dengan aktivitas
berasosiasi, melakukan komparasi, analogi, diferensiasi, dan sintesis.
Pada umumnya karya seni yang dinilai baik akan memberikan kepuasan
spiritual dan intelektual bagi pengamatnya.


3.      BUKU SENI BUDAYA KELAS XII SMA/SMK/MA/MAK SEMESTER 2 KURIKULUM 2013 (KEMENDIKBUD)
Komposisi merupakan gubahan, susunan, karangan musik. Orang yang
menggubah disebut komponis, komposer atau pencipta musik baik berupa lagu
ataupun instrumentalia. Penciptaan musik sebagai bentuk musikal dibedakan
atas sebutan: (1) komposisi, (2) improvisasi, dan (3) Aransemen
1. Komposisi
Komposisi merupakan penyusunan suatu karya musik baik dalam bentuk
lagu maupun instrumen yang diciptakan dalam bentuk tertulis dan bersifat
abadi untuk diperdengarkan, diedarkan, dinilai, diapresiasi masyarakat.
Keberhasilan suatu karya cipta musik ditentukan oleh nilai ciptanya. Kegiatan
komposisi ialah pengalaman membuat lagu yang berhubungan dengan
perencanaan penyusunan unsur-unsur musik menjadi suatu bentuk lagu
tertentu, menuliskannya ke dalam bentuk tulisan musik sebagai suatu hasil
karya musik, dan dapat diungkapkan, diperdengarkan, dan dimainkan kembali
secara berulang-ulang.
2. Improvisasi
Improvisasi adalah penciptaan musik yang tidak tertulis dan tidak bersifat
abadi karena tidak dapat diulang kembali dalam bentuk serta intensitas yang
sama. Improvisasi terjadi secara spontanitas saat menyajikan lagu/bernyanyi
atau saat memainkan alat musik, sebagai permainan ekspresi dan penjelmaan
langsung dari perasaan musikal yang timbul saat ini. Kegiatan improvisasi
ialah pengalaman mengungkapkan lagu secara reflex, mendadak tanpa
dipersiapkan sama sekali dan bahkan susah untuk tidak dapat diulang kembali
secara persis.
3. Aransemen
Aransemen adalah menggubah yang juga sering disebut susunan dan
transkripsi artinya ali tulis. Lebih khusus aransemen diartikan sebagai suatu
hasil karya dari teknik menyusun, mengatur, merangkai, menata kembali
suatu karya musik baik berupa lagu maupun instrumental sehingga menjadi
lebih indah, artistic, dan representative dibanding bentuk aslinya. Misalnya
menyangkut masalah melodi nada, irama, jenis dan kelompok suara, harmoni
dan struktur lagunya.













BAB IV
PEMBAHASAN
1.      PENGERTIAN TARI DEWI PERWIRA
Tarian Dewi Perwira merupakan kesenian khas daerah Purbalingga dan kesenian ini biasanya digunakan acara hari ulang tahun Kabupaten Purbalingga dan juga acara Pesta Rakyat Bralingmascakeb yang menggambarkan perempuan yang energik dan memiliki sikap seorang perwira seperti julukan kota Purbalingga yaitu Purbalingga Perwira.
2.      IRINGAN TARI DEWI PERWIRA
Tari Dewi Perwira diiringi menggunakan alat musik Calung Banyumasan, Calung banyumasan adalah alat musik tradisional serjenis perkusi  mirip gamelan yang terbuat dari bambu. Berada dan berkembang di daerah asalnya yaitu daerah karesidenan banyumas, yang meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Arti kata calung sendiri berasal dari dua kata yang di gabung menjadi satu yaitu “carang pring wulung” (pucuk bamboo wulung) dan ada juga yang mengartikan “di cacah melung-melung” (di pukul berbunyi nyaring).
Asal usul musik calung banyumas mengacu pada bongkel.  Hal ini terlihat jelas pada bentuk fisik instrumen, bahan baku, proses pembuatan, sistem pelarasan, struktur komposisi, dan teknik permainan dari beberapa instrumen. Bongkel adalah Musik yang selama ini disebut-sebut sebagai cikal-bakal Angklung dan Calung Banyumas. Anggapan ini cukup beralasan, sebab antara keduanya sebagian besar salah satu bentuk musik rakyat yang terdapat di desa Gerduren, Banyumas (Jawa Tengah). Musik ini didukung oleh sebuah instrumen perkusi sejenis Angklung Bambu berlaras slendro. Dalam satu bingkai terdapat empat tabung nada berbeda.
                      
             Cara memainkannya dengan cara digoyang dan digetarkan menggunakan kedua tangan, serta diikuti tutupan jari-jari tertentu untuk menentukan nada. Karakteristik permainan bongkel terletak pada jalinan ritmis antara keempat tabung nada. Dalam perkembangannya bentuk jalinan-jalinan ini mengilhami lahirnya alat musik tradisional yang sejenis yaitu Angklung, Krumpyung dan Calung. Bongkel pada awalnya berfungsi sebagai musik hiburan petani ketika berada di ladang. 
                    
             Secara musikal, bongkel memiliki teknik permainan tinggi, unik, khas, dan tidak ada duanya baik di Banyumas, maupun di daerah Indonesia. Berdasarkan analisis fisik, musikalitas, dan fungsi dapat diketahui bahwa bongkel termasuk musik bambu tertua di Banyumas. Setelah melalui proses perjalanan panjang, genre musik ini diduga mendapat pengaruh gamelan kemagan dan ringgeng yakni perangkat gamelan kecil yang biasa digunakan untuk mengiringi Lengger dan Ebeg. Perkembangan musik dari bongkel berkembang menjadi Buncis, kemudian dari buncis berkembang menjadi Krumpyung, dan dari krumpyung menjadi Calung.
Penjelasan masing-masing instrument calung banyumas :
         Gambang barung dan gambang penerus
                     Merupakan instrument yang sejenis tidak ada bedanya dari bentuk, ukuran, maupun sitem pelarasanya. hanya dalam tehnik memainkanya yang membedakan keduanya  kalau gambang barung berfungsi  sebagai pembuka dan melodi dalam gending tetapi kalau gambang penerus berfungsi memainkan imbal mengikuti gambang barung. Jumlah wilahan pada instrument ini berjumlah 16 wilahan.


-                 Kendang          
            Untuk kendang sendiri dalam calung banyumasan biasanya memakai kendang ciblon, tetapi seiring dengan perkembangan jaman banyak juga yang memakai kendang jaipong.
Tehnik atau gaya permainanya mengikuti gaya banyumasan yang sedikit rancak dan penuh semangat. Setiap gending memiliki pakem sendidri-sendiri sama seperti layak.nya gamelan jawa.
       Kenong
                  Kenong dalam calung banyumasan tehnik memainkanya tidak berbeda jauh layaknya kenong dalam gamelan jawa. Dan nada terendah (nada 2) pada kenong berfungsi sebagai kethuk layaknya metronom. jumlah wilahan pada kenong sendiri berjumlah 6 wilahan.

      Dhendhem
            Dhendhem dan kenong memiliki jumlah wilahan dan sitim penataan nada yang sama dengan kenong tetapi nada dhendhem lebih rendah di bandingkan kenong dan tehnik permainan dhendhem sendiri mendobel permainan kenong.
-          Gong bumbung
            Gong bumbung merupakan bagian dari calung yang sedikit unik, instrument ini terbuat dari 2 bambu yang berbeda ukuran diameternya. Bamboo yang berukuran besar berfungsi sebagai lubang resonansi sedangkan bamboo yang berukuran kecil berfungsi sebagai sebul. Tehnik memainkanya dengan cara menggetarkan bibir layaknya terompet. Nada yang di hasilkan merupakan produksi suara dari mulut kita sendiri. Untuk fungsinya sama dengan gong pada gamelan jawa

3.      EKSISTENSI TARI DEWI PERWIRA DI KABUPATEN PURBALINGGA
Tari Dewi Perwira keberadaannya sekarang mulai diminati oleh para anak anak muda khususnya wanita, karena Tari ini dimainkan oleh para wanita. Ditandai adanya sanggar sanggar tari yang semakin banyak didatangi oleh para anak anak muda di Kabupaten Purbalingga.

4.      EKSISTENSI ALAT MUSIK CALUNG BANYUMASAN
Alat musik Calung Banyumasan saat ini berkembang pesat, ditandai dengan para pemuda yang belajar calung di sanggar sanggar kesenian yang ada di Purbalingga, dan juga dipilihnya alat musik Calung sebagai perwakilan dari Jawa Tengah diajang Nasional dan pernah diundangnya salah satu kelompok calung di Kedutaan Besar Indonesia di Luar Negeri.

No comments:

Post a Comment

PENGERTIAN SENI MUSIK MENURUT BEBERAPA AHLI

Berikut ini pengertian seni musik menurut beberapa ahli: Berikut ini adalah beberapa pendapat ahli tentang seni musik: 1. Aristoteles       ...