BAB
1
LATAR
BELAKANG
Kabupaten
Purbalingga, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah
Purbalingga. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Pemalang di utara,
Kabupaten Banjarnegara di timur dan selatan, serta Kabupaten Banyumas di barat
dan selatan. Dalam buku Babad dan Sejarah Purbalingga, Purbalingga memiliki
nilai kesejarahan sendiri. Nama Purbalingga sangat didasari nilai budaya
klasik. Kata Purbalingga berasal dari perpaduan antara kata purba dan lingga.
Purba merujuk pada kata purwa. Yang artinya, dahulu, dimuka, permulaan atau
timur. Sementara lingga memiliki arti tanda atau arca. Jadi secara harfiah
Purbalingga berarti arca purba atau arca kuno. Saat ini Purbalingga dikenal
dengan julukan kota perwira.
Purbalingga memiliki banyak sekali kesenian –
kesenian khasnya. Contohnya tarian Dewi Perwira, tarian Dewi Perwira merupakan
kesenian khas daerah Purbalingga dan kesenian ini biasanya digunakan acara hari
ulang tahun Kabupaten Purbalingga dan juga acara Pesta Rakyat Bralingmascakeb.
Fungsi pada kesenian Dewi Perwira ini sebagai hiburan.Tarian dewi Perwira
menggambarkan perempuan yang energik dan memiliki sikap seorang perwira seperti
julukan kota Purbalingga yaitu Purbalingga Perwira.
BAB
II
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa itu Kesenian Tari Dewi Perwira?
2.
Alat musik apa saja yang dipakai untuk
mengiringi Tari Dewi Perwira ?
3.
Bagaimana eksistensi dari Tari Dewi
Perwira di Kabupaten Purbalingga?
4.
Bagaimana eksistensi Alat musik Calung?
BAB
III
REFERENSI
1.
BUKU FUNDAMENTAL PERSEPSI MUSIK ( oleh Teguh
Budiawan, S.Pd)
a. Aristoteles
Seni
adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang
dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam
b. Herbert
Read (1962)
mengatakan bahwa lahirnya sebuah karya seni
melalui beberapa tahapan sebagai suatu proses:
Tahap pertama, pengamatan kualitas-kualitas bahan seperti tekstur, warna dan banyak lagi kualitas fisik lainnya yang sulit untuk didifinisikan
Tahap kedua, adanya penyusunan hasil dari pengamatan kualitas tadi dan menatanya menjadi suatu susunan.
Tahap pertama, pengamatan kualitas-kualitas bahan seperti tekstur, warna dan banyak lagi kualitas fisik lainnya yang sulit untuk didifinisikan
Tahap kedua, adanya penyusunan hasil dari pengamatan kualitas tadi dan menatanya menjadi suatu susunan.
Tahap ketiga, proses suatu objektifikasi
dari tahapan-tahapan di atas yang berhubungan dengan keadaan sebelumnya.
Keindahan yang berakhir pada tahapan pertama belum dapat disebut seni, karena
seni jauh telah melangkah ke arah emosi atau perasaan. Seni telah mengarah pada
ungkapan sebagai “pengekspresian” dengan tujuan untuk komunikasi perasaan
c. Jean
Francois Lyotard (1924-1988), tokoh post-modern akhir abad ke-20,
menghakekati seni sebagai intensitas
energik. Menurut pendapatnya, seni sebagaimana dengan filsafat tidak terkait
dengan permasalahan makna, identitas, dan kebenaran. Energi seni adalah
dorongan yang tidak dikendalikan oleh nalar maupun kesadaran. Selain mengandung
kapasitas yang tak ternalarkan dan terwujudkan, seni juga memiliki daya ledak
yang tinggi yang mampu membuat peristiwa. Oleh karena itu, seni sebaiknya tidak
menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun sebaliknya, mengikuti daya energiknya
untuk mencapai keluhuran (sublimitas).
2.
SENI BUDAYA SMA/MA SMK/MAK Kelas XI
Semester 1 Kurikulum 2013 (KEMENDIKBUD)
Secara psikologis pengalaman pengindraan karya seni itu berurutan
Secara psikologis pengalaman pengindraan karya seni itu berurutan
dari
sensasi (reaksi panca indra kita mengamati seni), emosi (rasa
keindahan),
impresi (kesan pencerapan), interpretasi (penafsiran makna
seni),
apresiasi (menerima dan menghargai makna seni, dan evaluasi
(menyimpulkan
nilai seni). Aktivitas ini berlangsung ketika seseorang
mengindra
karya seni, biasanya sensasi tersebut diikuti dengan aktivitas
berasosiasi,
melakukan komparasi, analogi, diferensiasi, dan sintesis.
Pada
umumnya karya seni yang dinilai baik akan memberikan kepuasan
spiritual
dan intelektual bagi pengamatnya.
3.
BUKU SENI BUDAYA KELAS XII
SMA/SMK/MA/MAK SEMESTER 2 KURIKULUM 2013 (KEMENDIKBUD)
Komposisi
merupakan gubahan, susunan, karangan musik. Orang yang
menggubah
disebut komponis, komposer atau pencipta musik baik berupa lagu
ataupun
instrumentalia. Penciptaan musik sebagai bentuk musikal dibedakan
atas
sebutan: (1) komposisi, (2) improvisasi, dan (3) Aransemen
1.
Komposisi
Komposisi
merupakan penyusunan suatu karya musik baik dalam bentuk
lagu
maupun instrumen yang diciptakan dalam bentuk tertulis dan bersifat
abadi
untuk diperdengarkan, diedarkan, dinilai, diapresiasi masyarakat.
Keberhasilan
suatu karya cipta musik ditentukan oleh nilai ciptanya. Kegiatan
komposisi
ialah pengalaman membuat lagu yang berhubungan dengan
perencanaan
penyusunan unsur-unsur musik menjadi suatu bentuk lagu
tertentu,
menuliskannya ke dalam bentuk tulisan musik sebagai suatu hasil
karya
musik, dan dapat diungkapkan, diperdengarkan, dan dimainkan kembali
secara
berulang-ulang.
2.
Improvisasi
Improvisasi
adalah penciptaan musik yang tidak tertulis dan tidak bersifat
abadi
karena tidak dapat diulang kembali dalam bentuk serta intensitas yang
sama.
Improvisasi terjadi secara spontanitas saat menyajikan lagu/bernyanyi
atau
saat memainkan alat musik, sebagai permainan ekspresi dan penjelmaan
langsung
dari perasaan musikal yang timbul saat ini. Kegiatan improvisasi
ialah
pengalaman mengungkapkan lagu secara reflex, mendadak tanpa
dipersiapkan
sama sekali dan bahkan susah untuk tidak dapat diulang kembali
secara
persis.
3.
Aransemen
Aransemen
adalah menggubah yang juga sering disebut susunan dan
transkripsi
artinya ali tulis. Lebih khusus aransemen diartikan sebagai suatu
hasil
karya dari teknik menyusun, mengatur, merangkai, menata kembali
suatu
karya musik baik berupa lagu maupun instrumental sehingga menjadi
lebih
indah, artistic, dan representative dibanding bentuk aslinya. Misalnya
menyangkut
masalah melodi nada, irama, jenis dan kelompok suara, harmoni
dan
struktur lagunya.
BAB
IV
PEMBAHASAN
1.
PENGERTIAN TARI DEWI PERWIRA
Tarian Dewi Perwira merupakan kesenian khas
daerah Purbalingga dan kesenian ini biasanya digunakan acara hari ulang tahun
Kabupaten Purbalingga dan juga acara Pesta Rakyat Bralingmascakeb yang
menggambarkan perempuan yang energik dan memiliki sikap seorang perwira seperti
julukan kota Purbalingga yaitu Purbalingga Perwira.
2. IRINGAN TARI DEWI PERWIRA
Tari Dewi Perwira diiringi menggunakan alat
musik Calung Banyumasan, Calung banyumasan adalah alat musik tradisional
serjenis perkusi mirip gamelan yang
terbuat dari bambu. Berada dan berkembang di daerah asalnya yaitu daerah
karesidenan banyumas, yang meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas,
Cilacap, dan Kebumen. Arti kata calung sendiri berasal dari dua kata yang di
gabung menjadi satu yaitu “carang pring wulung” (pucuk bamboo wulung) dan ada
juga yang mengartikan “di cacah melung-melung” (di pukul berbunyi nyaring).
Asal usul musik calung banyumas mengacu pada
bongkel. Hal ini terlihat jelas pada
bentuk fisik instrumen, bahan baku, proses pembuatan, sistem pelarasan,
struktur komposisi, dan teknik permainan dari beberapa instrumen. Bongkel
adalah Musik yang selama ini disebut-sebut sebagai cikal-bakal Angklung dan
Calung Banyumas. Anggapan ini cukup beralasan, sebab antara keduanya sebagian
besar salah satu bentuk musik rakyat yang terdapat di desa Gerduren, Banyumas
(Jawa Tengah). Musik ini didukung oleh sebuah instrumen perkusi sejenis
Angklung Bambu berlaras slendro. Dalam satu bingkai terdapat empat tabung nada
berbeda.
Cara memainkannya dengan cara digoyang dan digetarkan menggunakan kedua
tangan, serta diikuti tutupan jari-jari tertentu untuk menentukan nada.
Karakteristik permainan bongkel terletak pada jalinan ritmis antara keempat
tabung nada. Dalam perkembangannya bentuk jalinan-jalinan ini mengilhami
lahirnya alat musik tradisional yang sejenis yaitu Angklung, Krumpyung dan
Calung. Bongkel pada awalnya berfungsi sebagai musik hiburan petani ketika
berada di ladang.
Secara musikal, bongkel memiliki teknik permainan tinggi, unik, khas,
dan tidak ada duanya baik di Banyumas, maupun di daerah Indonesia. Berdasarkan
analisis fisik, musikalitas, dan fungsi dapat diketahui bahwa bongkel termasuk
musik bambu tertua di Banyumas. Setelah melalui proses perjalanan panjang,
genre musik ini diduga mendapat pengaruh gamelan kemagan dan ringgeng yakni
perangkat gamelan kecil yang biasa digunakan untuk mengiringi Lengger dan Ebeg.
Perkembangan musik dari bongkel berkembang menjadi Buncis, kemudian dari buncis
berkembang menjadi Krumpyung, dan dari krumpyung menjadi Calung.
Penjelasan
masing-masing instrument calung banyumas :
Gambang barung dan gambang penerus
Merupakan instrument yang
sejenis tidak ada bedanya dari bentuk, ukuran, maupun sitem pelarasanya. hanya
dalam tehnik memainkanya yang membedakan keduanya kalau gambang barung berfungsi sebagai pembuka dan melodi dalam gending
tetapi kalau gambang penerus berfungsi memainkan imbal mengikuti gambang
barung. Jumlah wilahan pada instrument ini berjumlah 16 wilahan.
- Kendang
Untuk kendang sendiri dalam calung banyumasan biasanya memakai kendang
ciblon, tetapi seiring dengan perkembangan jaman banyak juga yang memakai
kendang jaipong.
Tehnik atau gaya permainanya mengikuti gaya
banyumasan yang sedikit rancak dan penuh semangat. Setiap gending memiliki
pakem sendidri-sendiri sama seperti layak.nya gamelan jawa.
Kenong
Kenong dalam calung
banyumasan tehnik memainkanya tidak berbeda jauh layaknya kenong dalam gamelan
jawa. Dan nada terendah (nada 2) pada kenong berfungsi sebagai kethuk layaknya
metronom. jumlah wilahan pada kenong sendiri berjumlah 6 wilahan.
Dhendhem
Dhendhem dan kenong memiliki jumlah wilahan dan sitim penataan nada yang
sama dengan kenong tetapi nada dhendhem lebih rendah di bandingkan kenong dan
tehnik permainan dhendhem sendiri mendobel permainan kenong.
-
Gong bumbung
Gong bumbung merupakan bagian dari calung yang sedikit unik, instrument
ini terbuat dari 2 bambu yang berbeda ukuran diameternya. Bamboo yang berukuran
besar berfungsi sebagai lubang resonansi sedangkan bamboo yang berukuran kecil
berfungsi sebagai sebul. Tehnik memainkanya dengan cara menggetarkan bibir
layaknya terompet. Nada yang di hasilkan merupakan produksi suara dari mulut
kita sendiri. Untuk fungsinya sama dengan gong pada gamelan jawa
3.
EKSISTENSI TARI DEWI PERWIRA DI
KABUPATEN PURBALINGGA
Tari
Dewi Perwira keberadaannya sekarang mulai diminati oleh para anak anak muda
khususnya wanita, karena Tari ini dimainkan oleh para wanita. Ditandai adanya
sanggar sanggar tari yang semakin banyak didatangi oleh para anak anak muda di
Kabupaten Purbalingga.
4.
EKSISTENSI ALAT MUSIK CALUNG BANYUMASAN
Alat musik Calung Banyumasan saat ini berkembang pesat, ditandai dengan para pemuda yang belajar calung di sanggar sanggar kesenian yang ada di Purbalingga, dan juga dipilihnya alat musik Calung sebagai perwakilan dari Jawa Tengah diajang Nasional dan pernah diundangnya salah satu kelompok calung di Kedutaan Besar Indonesia di Luar Negeri.
Alat musik Calung Banyumasan saat ini berkembang pesat, ditandai dengan para pemuda yang belajar calung di sanggar sanggar kesenian yang ada di Purbalingga, dan juga dipilihnya alat musik Calung sebagai perwakilan dari Jawa Tengah diajang Nasional dan pernah diundangnya salah satu kelompok calung di Kedutaan Besar Indonesia di Luar Negeri.
No comments:
Post a Comment