Thursday, 1 August 2019

Makalah Pembelajaran Seni Musik Berbasis Action Learning


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan di Indonesia saat ini tengah mengalami krisis yang cukup serius terutama pada pembentukan karakter. Krisis ini tidak saja disebabkan oleh anggaran pemerintah yang sangat rendah untuk membiayai kebutuhan vital dunia pendidikan di Indonesia, tetapi juga lemahnya tenaga ahli, visi serta politik pendidikan nasional yang tidak jelas. Sisi lain dari kritik tersebut sedikitnya menggambarkan bahwa proses pendidikan pada jenjang pra-universitas kurang sekali memberi tekanan pada pembentukan watak atau karakter, tetapi lebih pada hafalan dan pemahaman kognitif. Akibatnya, ketika mereka masuk dunia perguruan tinggi, mental akademik dan kemandirian belum terbentuk.
Menghadapi kenyataan tersebut, dunia pendidikan harus bisa berperan aktif menyiapkan sumberdaya manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik lokal, regional, nasional maupun internasional. Dunia pendidikan, siswa tidak cukup hanya menguasai teori-teori, tetapi juga mau dan mampu mengelola diri serta menerapkannya dalam kehidupan sosial. Tidak hanya mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku sekolah/kuliah, tetapi juga mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam suatu proses pendidikan itu harus bisa menanamkan ciri-ciri, watak, serta jiwa peduli, mandiri, tanggung jawab dan cakap dalam kehidupan.

B.     Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan konsep pembelajaran berbasis action learning
b.      Bagaimana pengaplikasian pembelajaran  seni musik berbasis action learning di sekolah
C.     Tujuan Pembahasan
1.      Menjelaskan konsep pembelajaran berbasis action learning
2.      Mengidentifikasi ragam aktivitas musical dalam pembelajaran seni musik berbasis action learning
3.      Membuat rancangan aktivitas musical dalam pembelajaran seni musik berbasis action learning



BAB II
PEMBAHASAN


1.       Pendekatan Action Learning

Profesor Reginald Revans adalah salah satu pakar pendekatan pembelajaran
action learning. Gagasan mengenai action learning sebenarnya sudah berumur 60
tahun lebih, tapi dinilai masih relevan dengan kondisi saat ini. Action learning
merupakan metode pembelajaran yang berdasarkan pada pengalaman (learning by
doing). Siswa diajarkan melalui tindakan aktual dan pengulangan, bukan melalui
instruksi tradisional. (Wikipedia, diakses pada tanggal 2 Januari 2013)
Masnur Muslich (2010:118) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran
berbuat (action learning approach) menekankan pada usaha memberikan kesempatan
kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan nyata dan positif, baik secara
perseorangan maupun cara bersama-sama dalam suatu kelompok.
Pendekatan pembelajaran berbuat juga direkomendasikan oleh Newman, dengan
memberikan perhatian mendalam pada usaha melibatkan siswa dalam melakukan
perubahan-perubahan. Pendekatan ini berusaha juga untuk meningkatkan ketrampilan
dan dimensi efektif, namun tujuan yang paling penting adalah memberikan
pengajaran kepada siswa supaya mereka berkemampuan untuk mempengaruhi
kebijakan umum sebagai warga dalam suatu masyarakat yang demokratis, menurut
Masnur Muslich (Elias, 1989).

Mansur Muslich (2010:120) menyatakan bahwa kekuatan pendekatan ini
terutama pada program-program yang disediakan dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Sementara
kelemahan pendekatan ini menurut Elias (1989), sulit dipraktikkan dan hanya
sebagian program-programnya saja yang dapat dipraktikkan. Berikut ini adalah 3
faktor utama yang berkaitan dengan proses Action Learning, yaitu (1) Task, (2) Team,
(3) Thoughtful Action.
Task. Masalah yang menantang adalah jantung pada semua proses Action
Learning. Tantangan ini hendaknya berkaitan dengan tugas-tugas yang nyata—bukan
suatu tugas yang disimulasikan (yang kemudian direfleksikan pada kegiatan
sehari-hari). Task hendaknya memiliki nilai-nilai strategik dan konsekuensi jangka
panjang bagi keseluruhan siswa serta berdampak pada keseluruhan siswa. Task bukan
sebuah tugas yang bisa dituntaskan oleh prosedur standar yang telah ada tetapi
membutuhkan kreasi dan aplikasi pendekatan-pendekatan yang baru.
Team. Action Learning dikerjakan oleh tim yang beranggotakan 4 sampai 8
orang. Anggota tim diusahakan memiliki latar belakang berbeda agar menjamin
proses belajar yang maksimum. Anggota tim hendaknya menggambarkan perbedaan
tugas, budaya, kepribadian, cara berfikir dan gaya belajar.
Thoughtful action. Kegiatan Action Learning yang efektif sebaiknya seimbang
antara teamwork dan team learning. Proses ini membutuhkan tata waktu dan berbagai
alat bantu yang memadai sehingga anggota tim bisa menjalankan pekerjaannya,
melakukan refleksi atas proses, memperoleh prinsip-prinsip dan pemahaman baru
serta saling berbagi peran di antara anggota tim.
Kombinasi “doing” dan “thinking” pada kegiatan Action Learning
menghasilkan beberapa manfaat yang unik yaitu: (1) Ownership, Karena tim muncul
dengan sebuah rencana yang akan segera dilakukan, maka anggota tim atau siswa
merasa memiliki pada apa yang akan dikerjakan dibandingkan dengan tugas-tugas
yang dibuat dari atas, (2) Creativity. Keragaman anggota tim Action Learning
menjamin perbedaan cara pandang. Karena tantangan yang dihadapi relatif besar
maka akan muncul rasa menjadi sebuah tim. Faktor ini membuat ide-ide lebih kreatif
dibandingkan yang dihasilkan oleh individu atau komite yang anggotanya homogen,
(3) Communication, Tim Action Learning yang lintas fungsional meningkatkan dan
memperbaiki komunikasi antar kelompok yang berbeda-beda. Dengan memperkuat
sebuah tim Action Learning untuk mampu mengambil keputusan dan melakukan
tindakan yang tepat, kita sedang mendorong dan memberikan penghargaan kepada
anggota tim untuk saling berbicara yang terfokus pada keseluruhan organisasi
daripada berbicara untuk satu bagian saja, (4) Personal growth. Action Learning
mengubah baik kelompok maupun individu. Pada sisi pribadi, orang belajar
pengetahuan dan ketrampilan baru yang berkenaan dengan pekerjaannya. Mereka
secara khusus memperoleh ketrampilan interpersonal berkenaan dengan leadership,
teamwork, keragaman dan pengambilan keputusan. Anggota kelompok memperoleh
manfaat dari pandangan yang lebih luas tentang organisasi dan belajar bagaimana
berbagai upaya orang untuk berkontribusi pada dan memperoleh manfaat dari usaha
tim, bagian, organisasi dan komunitas di sekitar organisasi, (5) Application. Berbeda
dengan belajar di dalam kelas atau web-based learning, Action Learning
memproduksi pengetahuan dan ketrampilan yang benar-benar bisa digunakan dalam
pekerjaan. Action Learning mengandung semua keunggulan pada On the Job
Training (OTJ). Pada banyak kasus, keunggulan Action Learning melampaui OTJ
karena Action Learning melibatkan lebih banyak tantangan-tantang yang strategik
yang dikonfrontasikan pada keseluruhan organisasi sebagai sistem total.
2.       Pembelajaran Musik melalui Pengalaman Musik

Seperti yang telah dibahas dalam pengertian pendekatan action learning di atas
bahwa pendekatan ini didasarkan pada pengalaman (learning by doing). Pada
penerapannya dalam pembelajaran seni musik, Regelski (1981: 11) mengungkapkan
bahwa pendekatan melalui aktivitas bertitik pada pembelajaran melalui keterlibatan
aktif dalam pemberian informasi yang diberikan oleh guru. Dalam konteks ini siswa
diharapkan untuk aktif terlibat dengan musik baik secara mental maupun fisik.
Pembelajaran seni musik berbasis action learning, dilakukan dengan cara
guru memberikan pengalaman musikal secara langsung kepada siswa dengan tujuan
agar para siswa dapat membangun konsep-konsep musik dalam dirinya. Oleh karena
itu wujudnya bukan seperangkat aturan verbal, pernyataan atau definisi yang
dicontohkan, gambar/simbol-simbol musik yang diajarkan melalui pengalaman,
namun demikian pengalaman itu sendiri yang akan secara aktif berinteraksi, mengatur,
dan bertindak atas realitas. Konsep-konsep musik tidak diajarkan secara langsung tapi
merupakan formulasi unik yang dipelajari oleh siswa berdasarkan tindakan langsung
22
dengan atau pada bahan musik (Regelski, 1981:12-13).
Dalam dokumen yang berdasar pada keputusan Regional Conference on Art
Education yang diselenggarakan oleh UNESCO di Nadi, Fiji pada tanggal 25-29
November 2002, disebutkan bahwa pembelajaran musik meliputi, (1) Listening and
responding, (2) Singing, (3) Playing, (4) Creating, (5) Reading and recording, (6)
Analysing and appreciating.
Sedangkan pendekatan yang digunkanakan dalam pembelajaran musik tersebut
dapat berupa, (1) mengkolaborasikan seni yang berbeda, (2) pembelajaran individu
maupun grup dalam komposisi dan penampilan, (3) Evaluasi Kritis, (4) Improvisasi,
(5) peningkatan kemampuan pendengaran, (6) pembelajaran kawan sebaya, (7)
percontohan, (8) evaluasi secara mandiri dan teman sebaya, (9) diskusi grup yang
terpusat pada kegiatan mendengar, misalnya mengidentifikasi dan mendeskripsikan
elemen musik, kegunaan musik dan lain-lain.
Jamalus (1988:2) menyatakan bahwa, pemahaman unsur-unsur musik akan
diperoleh melalui pengajaran yang dinamakan teori musik dasar. Pengajaran teori
musik dasar ini dapat memberikan pemahaman yang bermakna bagi seseorang jika ia
telah mengalami serta menghayati fungsi unsur-unsur musik itu dalam lagu yang
dipelajarinya. Jadi, untuk memperoleh pemahaman yang bermakna , unsur-unsur
musik itu haruslah diberikan melalui pengalaman musik.
Pengalaman musik adalah sebuah proses menghayati suatu karya musik melalui
kegiatan mendengarkan , bernyanyi, bermain musik, bergerak mengikuti musik, serta
membaca musik, sehingga siswa mendapat gambaran menyeluruh tentang ungkapan
karya musik tersebut. Pengalaman musik melalui pengamatan yang sadar akan
meninggalkan perbendaharaan bermacam-macam unsur musik di dalam ingatan
siswa.

Pembelajaran musik adalah pembelajaran tentang bunyi. Apa pun yang dibahas
dalam suatu pembelajaran musik haruslah bertitik tolak dari bunyi itu sendiri. Unsur
yang paling dasar dan sangat penting dalam suatu lagu adalah irama dan melodi.
Dalam kegiatan bernyanyi atau bermain musik kita harus dapat merasakan gerak
irama lagu dan ayunan biramanya, serta dapat membayangkan nada dan melodi lagu
tersebut dalam pikiran atau khayalan kita. Kedua hal itu dapat dicapai dengan
pengalaman musik.
Berikut ini merupakan beberapa kegiatan untuk pengalaman musik:

1.      Mendengarkan musik, seperti yang disampaikan Jamalus (1988:43) semua segi
pendidikan musik memerlukan keterampilan mendengarkan. Mendengarkan musik
bukanlah merupakan hal yang aneh saat ini. Kita sering mendengarkan musik dari
televisi, radio, mp3 player, dan berbagai macam media rekam. Di berbagai tempat
baik dibidang layanan jasa, perdagangan, perbankan telah dilengkapi dengan
pemutaran musik untuk menyegargan suasana. Cara mendengarkan musik yang akan
diajarkan kepada siswa adalah untu memupuk dan meningkatkan rasa keindahan
musik, serta memberi pengetahuan dan pemahaman tentang unsur-unsur musik
melalui bunyi musik yang didengarkan.
2.      Bernyanyi, merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi peserta didik, dan
pengalaman bernyanyi ini memberikan kepuasan. Bernyanyi juga merupakan alat
bagi anak untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
3.      Bermain musik, kegiatan ini akan memberikan pengalaman yang dapat
meningkatkan minat siswa dalam belajar musik. Bermacam-macam alat musik yang
dapat digunakan dalam kelas dapat dikelompokkan atas tiga golongan, yaitu alat
musik irama, alat musik melodi, dan alat musik harmoni.
4.      Bergerak mengikuti musik, yang meliputi 2 macam, yaitu (1) Gerak di tempat,
dan (2) gerak berpindah. Kegiatan ini diberikan untuk memupuk, meningkatkan, serta
memantabkan pemahaman dan penghayatan rasa unsur-unsur musik kepada siswa.
5.      Membaca musik, keterampilan membaca musik akan dapat membuka pintu bagi
anak untuk meningkatkan pemahamannya tentang musik.

3.       Penerapan Pembelajaran Seni Musik Berbasis Action Learning di SMA

Pendekatan action learning dan Pembelajaran Musik Melalui Pengalaman
Musik yang dikonsepkan oleh Jamalus, keduanya memiliki kesamaan yaitu
menerapkan konsep "learning by doing". Dalam pendekatan action learning juga
menitik beratkan pada pengalaman musik dan keterlibatan aktif siswa dalam
bermusik. Keduanya memiliki konsep yang sama namun dengan istilah yang berbeda.
Pembelajaran seni musik di sekolah menengah atas (SMA) yang merupakan sub
mata pelajaran seni budaya seharusnya dilaksanakan dengan mengkaitkan aspek
budaya sebagai konteksnya. Oleh karena itu, pembelajaran seni musik yang dirancang
dengan mengacu pada pembelajaran yang berbasis action learning sangat sesuai.
Karena pembelajaran berbasis action learning harus dilakukan dengan cara mencari
koneksi sedekat mungkin atau relevansi antara materi pembelajaran dengan
kehidupan nyata siswa dalam berbagai situasi (Regelski, 1981: 18)

4.       Karakteristik Siswa SMA

Usia siswa SMA secara umum berada pada rentang 15/16-18/19 tahun yang
kerap disebut sebagai usia remaja, oleh karena itu sebelum kita membahas lebih
lanjut mengenai karakteristik siswa SMA atau karakteristik seorang remaja kita akan
bahas terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan usia remaja itu.
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18
tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun.
Sedangkan menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada
rentang 12-23 tahun.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau
pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang
menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity
diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003,
Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang
sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah
pada diri remaja.
Berikutnya kita akan mulai membahas karakteristik dari remaja. Dari beberapa
pengertian di atas masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia
yang batasan usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Masa remaja ini
sering dianggap sebagai masa peralihan, dimana saat-saat ketika anak tidak mau lagi
diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum
dapat dikatakan orang dewasa.
Fase-fase masa remaja menurut Monks dkk. (2004) dibatasi antara usia 12-21
tahun, dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun
termasuk masa remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir.
Karakteristik yang menonjol pada anak usia sekolah menengah adalah sebagai
berikut: (1) Adanya kekurangseimbangan proporsi tinggi dan berat badan, (2) Mulai
timbulnya ciri-ciri sekunder, (3) Timbulnya keinginan untuk mempelajari dan
menggunakan bahasa asing, (4) Kecenderungan ambivalensi antara keinginan
menyendiri dengan keinginan bergaul dengan orang banyak serta antara keinginan
untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua,
(5) Senang membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika, atau norma dengan
kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa, (6) Mulai mempertanyakan
secara skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan
Tuhan, (7) Reaksi dan ekspresi emosi masih labil, (8) Kepribadiannya sudah
menunjukkan pola tetapi belum terpadu, (9) Kecenderungan minat dan pilihan karier
sudah relatif lebih jelas.
Karakteristik-karakteristik tersebut akan mendatangkan implikasi bagi
kehidupannya, salah satu implikasi dari karakteristik siswa SMA tersebut terhadap
pendidikan adalah remaja memerlukan orang yang dapat membantunya mengatasi
kesukaran yang dihadapi. Pribadi pendidik (sebagai pendukung nilai) berpengaruh
langsung terhadap perkembangan pendirian hidup remaja. Karena itu, segala sikap
dan perilaku pendidik harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi pendidikan.
Pendidik hendaknya: (1) berdiri ’di samping’ mereka, tidak di depannya melalui
dikte dan instruksi; (2) menunjukkan simpati bukan otoritas, sehingga dapat
memperoleh kepercayaan dari remaja dan memberinya mereka bimbingan; serta (3)
menanamkan semangat patriotik dan semangat luhur lainnya karena ini memang
masanya.
Menurut Hunkins (1980), secara mental siswa SMA cenderung berkarakteristik
sebagai berikut: (1) individu dilanda kerisauan untuk menemukan jati diri dan tujuan
hidup mereka, (2) keadaan mental remaja itu terus berlanjut dan untuk berusaha keras
suntuk menjadi mandiri, (3) dalam melepaskan ketergantungan dari orang dewasa,
pelbagai individu ini kerap memperlihatkan perubahan mood yang ekstrem, dari yang
kooperatif hingga yang suka memberontak, (4) kendali untuk dapat diterima
lingkungan masih kuat, dan individu-individu itu sangat memperhatikan popularitas,
terutama bagi kalangan yang berbeda kelamin; serta, (5) berbagai individu sering
mengalami beberapa masalah dengan membuat penilaian sendiri.
Dengan kata lain usia siswa SMA cenderung memiliki karakter yang labil, dan
riskan. Karena dalam usia tersebut merupakan masa peralihan dari anak-anak ke
dewasa, yang mulai terjadi perubahan-perubahan baik sikap/perilaku, cara pikir, dan
emosi. Pembelajaran seni musik untuk siswa SMA hendaknya juga menyesuaikan
fase psikologis dalam usia tersebut. Pembelajaran musik dengan keterlibatan
langsung siswa dengan aktivitas-aktivitas musik diharapkan dapat membentuk siswa
untuk kreatif, mandiri, dan mampu memahami pembelajaran dengan konsep
seutuhnya.

5.       Kendala dalam Penerapan Pembelajaran Seni Musik Berbasis Action
Learning

Berdasarkan wawancara dan pengamatan dalam proses pembelajaran seni musik
berbasis action learning yang menggunakan gitar dengan media Kamogi pada kelas
XI di SMA Negeri 1 Ngawi mengalami kendala- kendala yang terjadi selama proses
pembelajaran berlangsung. Kendala-kendala tersebut disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain :
a.      Faktor Siswa
Siswa merupakan subjek didik, artinya sebagai individu yang sedang mengalami
proses pembelajaran. Untuk itu dalam proses belajar mengajar, kegiatan siswa perlu
mendapatkan perhatian dan pengawasan dari guru. Karena dalam proses
pembelajaran yang sedang berlangsung kadang siswa tidak berkonsentrasi pada
materi tersebut. Maka guru perlu mencari jalan keluar supaya siswa dapat
berkonsentrasi dalam menerima materi, agar hasil pembelajaran dapat tercapai.
b.      Faktor Guru
Guru sangat berperan dalam setiap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Utamanya apabila guru kurang memperhatikan waktu dalam proses pembuatan media
Kamogi atau kurang terencanakan, maka hasilnya akan menjadi kurang efektif.
Apabila kurang memahami konsep pembuatan sampai pemakaian alat Kamogi, media
ini menjadi sangat kurang bermakna (kurang mempunyai arti).
c.       FaktorAlat
Kekurangan alat musik gitar menjadi kendala utama dalam pembelajaran. Akan
tetapi hal tersebut dapat teratasi dengan media kamogi. Beberapa kendala juga
muncul dari media kamogi, yang antara lain (1) fingerboard, (2) fret, (3) nut, (4)
Marcas/marks.
Apabila fingerboard panjangnya kurang dari 40 cm, maka akan mengganggu
dalam proses latihan posisi. Apabila bentuk fingerboard kotak akan menghambat
dalam latihan prigresi akor, karena tangan kiri ketika bergerak akan tersangkut kayu
fingerboard. Ukuran Fret yang tidak sesuai dengan lebar ukuran standar
Kamogi atau Neck gitar yang sesungguhnya, akan mengakibatkan gangguan dalam
fingering untuk membuat posisi akor. Pemasangan Nut yang terlalu tinggi
mengakibatkan gangguan dalam berlatih fingering. Karena terlalu jauh jarak antara
fingerboard dengan senar. Pemasangan Nut yang terlalu rendah mengakibatkan
gangguan dalam berlatih fingering. Karena mengakibatkat sentuhan senar pada jari
kurang berdampak atau kurang terasa pada syaraf jari tangan kiri, sewaktu menekan
senar. Marcas yang terlalu lebar akan mengganggu dalam penjarian akor apalagi yang
jari-jarinya pendek. Apabila terlalu sempit akan mengganggu dalam penjarian akor.
Untuk yang ukuran jarinya panjang.
Selain itu, media kamogi tidak dapat menghasilkan bunyi yang sama dengan gitar.
Oleh karena hal tersebut dalam pembelajaran, guru harus selalu menyertai dengan
memainkan gitar agar siswa mempunyai gambaran-gambaran bunyi akord yang
dipelajarinya.


d.       Faktor Penjarian
Beberapa kendala pembelajaran gitar dengan media kamogi ini juga muncul pada
penjarian baik tangan kiri maupun kanan. Jika jari-jari tangan kiri menekannya senar
kurang atau kuat, hasilnya menjadi tidak maksimal. Jika jari 1,2,3,4 tangan kiri kaku,
hasilnya juga kurang maksimal. Jika jari tangan kiri ada kukunya, akan sangat
mengganggu sekali dalam proses fingering.
Sedangkan untuk tangan kanan, apabila siswa kurang memahami ritme, maka
waktu proses strumming berlangsung akan terkendala dengan ketuakan (tempo) yang
tidak pas. Sehingga hasil ritme kedengaran tidak rata. Untuk jari P.I.M.A yang kaku
akan mengganggu dalam proses latihan memainkan lagu denga teknik petikan.




BAB III
PENUTUP

a)       Kesimpulan

Proses pembelajaran action learning berpusat pada kegiatan bermain gitar
dengan menggunakan media kamogi melalui beberapa tahap yaitu: tahap pengenalan
alat, tahap pengenalan macam dan jenis bunyi akord, tahap penjarian, tahap latihan
perpindahan akord, tahap latihan ritmik atau strumming, tahap aplikasi atau terapan,
dan tahap transfer ke gitar yang sesungguhnya. Dalam pembelajaran ini aktivitas
musikal utama yang digunakan adalah bermain alat musik gitar. Namun ada beberapa
aktivitas musikal lainnya yang menunjang seperti bernyanyi, dan mendengarkan. Hal
ini dikarenakan media kamogi yang digunakan tidak menghasilkan bunyi seperti
halnya gitar.
Kendala yang muncul dari siswa adalah minat dan konsentrasi siswa yang kurang
dalam belajar gitar dengan media kamogi akan sangat berpengaruh sekali dalam
ketercapaian proses belajar mengajar. Sedangkan kendala yang muncul dari faktor
pendidik adalah kurangnya pengertian konsep dalam proses pembuatan dan
pemahaman konsep pemakaian media kamogi akan menjadi kurang efektif dan
kurang mempunyai makna. Serta faktor penjarian muncul dari jari-jari tangan kiri
yang kaku dan ada kukunya akan sangat mengganggu dalam latihan fingering
maupun proses latihan akord, serta jari-jari tangan kanan yang kaku akan
mengganggu latihan struming maupun dalam latihan teknik petikan.
Faktor-faktor utama dalam action learning yang meliputi task, team, serta
thougful action telah dilaksanakan dalam pembelajaran seni musik di SMA. Hal tersebut tercermin dengan adanya tugas-tugas yang diberikan guru
dengan melibatkan keaktifan siswa melakukan kegiatan-kegiatan musik dalam
pembelajaran. Kekurangan terdapat pada aspek team, yang dalam pelaksanaannya
belum ada tugas dalam kelompok-kelompok kecil untuk memaksimalkan
pembelajaran. Thoughtful action tercapai dengan adanya kemampuan siswa
merefleksikan pemahaman apa yang telah didapatnya.

b)      Saran
Dalam hal pelaksanaan guru sebaiknya memaksimalkan semua pendekatan dengan aktivitas
musikal dalam pembelajaran seni musik, terutama untu membentuk tim-tim kecil
dengan tugas yang berbeda agar memperoleh pemahaman yang beragam. Sedangkan
dalam hal penilaian, hendaknya guru lebih terperinci dalam membuat kriteria
penilaian agar tampak terlihat tercapai atau tidaknya indikator pembelajaran.
Bagi siswa, hendaknya mencoba semua aktivitas musikal untuk menambah
pemahaman mengenai musik, mengembangkan keterampilan musik, dan sebagai
aktualisasi diri secara positif.

1 comment:

  1. Jasa Pembuatan Aplikasi Multimedia Pembelajaran Interaktif Flash Android
    Info & Pemesanan - WA. 0815 797 4549
    www.pscindonesia.com

    ReplyDelete

PENGERTIAN SENI MUSIK MENURUT BEBERAPA AHLI

Berikut ini pengertian seni musik menurut beberapa ahli: Berikut ini adalah beberapa pendapat ahli tentang seni musik: 1. Aristoteles       ...