BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dunia
pendidikan di Indonesia saat ini tengah mengalami krisis yang cukup serius
terutama pada pembentukan karakter. Krisis ini tidak saja disebabkan oleh
anggaran pemerintah yang sangat rendah untuk membiayai kebutuhan vital dunia
pendidikan di Indonesia, tetapi juga lemahnya tenaga ahli, visi serta politik
pendidikan nasional yang tidak jelas. Sisi lain dari kritik tersebut sedikitnya
menggambarkan bahwa proses pendidikan pada jenjang pra-universitas kurang sekali
memberi tekanan pada pembentukan watak atau karakter, tetapi lebih pada hafalan
dan pemahaman kognitif. Akibatnya, ketika mereka masuk dunia perguruan tinggi,
mental akademik dan kemandirian belum terbentuk.
Menghadapi
kenyataan tersebut, dunia pendidikan harus bisa berperan aktif menyiapkan
sumberdaya manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan,
baik lokal, regional, nasional maupun internasional. Dunia pendidikan, siswa
tidak cukup hanya menguasai teori-teori, tetapi juga mau dan mampu mengelola
diri serta menerapkannya dalam kehidupan sosial. Tidak hanya mampu menerapkan
ilmu yang diperoleh di bangku sekolah/kuliah, tetapi juga mampu memecahkan
berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa di dalam suatu proses pendidikan itu harus bisa
menanamkan ciri-ciri, watak, serta jiwa peduli, mandiri, tanggung jawab dan
cakap dalam kehidupan.
B. Rumusan
Masalah
a. Apa
yang dimaksud dengan konsep pembelajaran berbasis action learning
b. Bagaimana
pengaplikasian pembelajaran seni musik
berbasis action learning di sekolah
C. Tujuan
Pembahasan
1. Menjelaskan
konsep pembelajaran berbasis action learning
2. Mengidentifikasi
ragam aktivitas musical dalam pembelajaran seni musik berbasis action learning
3. Membuat
rancangan aktivitas musical dalam pembelajaran seni musik berbasis action
learning
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pendekatan Action Learning
Profesor
Reginald Revans adalah salah satu pakar pendekatan pembelajaran
action
learning. Gagasan
mengenai action learning sebenarnya sudah berumur 60
tahun
lebih, tapi dinilai masih relevan dengan kondisi saat ini. Action learning
merupakan
metode pembelajaran yang berdasarkan pada pengalaman (learning by
doing).
Siswa
diajarkan melalui tindakan aktual dan pengulangan, bukan melalui
instruksi
tradisional. (Wikipedia, diakses pada tanggal 2 Januari 2013)
Masnur
Muslich (2010:118) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran
berbuat
(action learning approach) menekankan pada usaha memberikan kesempatan
kepada
siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan nyata dan positif, baik secara
perseorangan
maupun cara bersama-sama dalam suatu kelompok.
Pendekatan
pembelajaran berbuat juga direkomendasikan oleh Newman, dengan
memberikan
perhatian mendalam pada usaha melibatkan siswa dalam melakukan
perubahan-perubahan.
Pendekatan ini berusaha juga untuk meningkatkan ketrampilan
dan
dimensi efektif, namun tujuan yang paling penting adalah memberikan
pengajaran
kepada siswa supaya mereka berkemampuan untuk mempengaruhi
kebijakan
umum sebagai warga dalam suatu masyarakat yang demokratis, menurut
Masnur
Muslich (Elias, 1989).
Mansur
Muslich (2010:120) menyatakan bahwa kekuatan pendekatan ini
terutama
pada program-program yang disediakan dan memberikan kesempatan
kepada
siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Sementara
kelemahan
pendekatan ini menurut Elias (1989), sulit dipraktikkan dan hanya
sebagian
program-programnya saja yang dapat dipraktikkan. Berikut ini adalah 3
faktor
utama yang berkaitan dengan proses Action Learning, yaitu (1) Task,
(2) Team,
(3)
Thoughtful Action.
Task.
Masalah
yang menantang adalah jantung pada semua proses Action
Learning.
Tantangan ini hendaknya berkaitan dengan tugas-tugas yang nyata—bukan
suatu
tugas yang disimulasikan (yang kemudian direfleksikan pada kegiatan
sehari-hari).
Task hendaknya memiliki nilai-nilai strategik dan konsekuensi jangka
panjang
bagi keseluruhan siswa serta berdampak pada keseluruhan siswa. Task bukan
sebuah
tugas yang bisa dituntaskan oleh prosedur standar yang telah ada tetapi
membutuhkan
kreasi dan aplikasi pendekatan-pendekatan yang baru.
Team.
Action Learning dikerjakan oleh tim yang beranggotakan 4 sampai 8
orang.
Anggota tim diusahakan memiliki latar belakang berbeda agar menjamin
proses
belajar yang maksimum. Anggota tim hendaknya menggambarkan perbedaan
tugas,
budaya, kepribadian, cara berfikir dan gaya belajar.
Thoughtful
action. Kegiatan
Action Learning yang efektif sebaiknya seimbang
antara
teamwork dan team learning. Proses ini membutuhkan tata waktu dan
berbagai
alat
bantu yang memadai sehingga anggota tim bisa menjalankan pekerjaannya,
melakukan
refleksi atas proses, memperoleh prinsip-prinsip dan pemahaman baru
serta
saling berbagi peran di antara anggota tim.
Kombinasi
“doing” dan “thinking” pada kegiatan Action Learning
menghasilkan
beberapa manfaat yang unik yaitu: (1) Ownership, Karena tim muncul
dengan
sebuah rencana yang akan segera dilakukan, maka anggota tim atau siswa
merasa
memiliki pada apa yang akan dikerjakan dibandingkan dengan tugas-tugas
yang
dibuat dari atas, (2) Creativity. Keragaman anggota tim Action
Learning
menjamin
perbedaan cara pandang. Karena tantangan yang dihadapi relatif besar
maka
akan muncul rasa menjadi sebuah tim. Faktor ini membuat ide-ide lebih kreatif
dibandingkan
yang dihasilkan oleh individu atau komite yang anggotanya homogen,
(3) Communication,
Tim Action Learning yang lintas fungsional meningkatkan dan
memperbaiki
komunikasi antar kelompok yang berbeda-beda. Dengan memperkuat
sebuah
tim Action Learning untuk mampu mengambil keputusan dan melakukan
tindakan
yang tepat, kita sedang mendorong dan memberikan penghargaan kepada
anggota
tim untuk saling berbicara yang terfokus pada keseluruhan organisasi
daripada
berbicara untuk satu bagian saja, (4) Personal growth. Action
Learning
mengubah
baik kelompok maupun individu. Pada sisi pribadi, orang belajar
pengetahuan
dan ketrampilan baru yang berkenaan dengan pekerjaannya. Mereka
secara
khusus memperoleh ketrampilan interpersonal berkenaan dengan leadership,
teamwork,
keragaman
dan pengambilan keputusan. Anggota kelompok memperoleh
manfaat
dari pandangan yang lebih luas tentang organisasi dan belajar bagaimana
berbagai
upaya orang untuk berkontribusi pada dan memperoleh manfaat dari usaha
tim,
bagian, organisasi dan komunitas di sekitar organisasi, (5) Application.
Berbeda
dengan
belajar di dalam kelas atau web-based learning, Action Learning
memproduksi
pengetahuan dan ketrampilan yang benar-benar bisa digunakan dalam
pekerjaan.
Action Learning mengandung semua keunggulan pada On the Job
Training
(OTJ).
Pada banyak kasus, keunggulan Action Learning melampaui OTJ
karena
Action Learning melibatkan lebih banyak tantangan-tantang yang strategik
yang
dikonfrontasikan pada keseluruhan organisasi sebagai sistem total.
2. Pembelajaran
Musik melalui Pengalaman Musik
Seperti
yang telah dibahas dalam pengertian pendekatan action learning di atas
bahwa
pendekatan ini didasarkan pada pengalaman (learning by doing). Pada
penerapannya
dalam pembelajaran seni musik, Regelski (1981: 11) mengungkapkan
bahwa
pendekatan melalui aktivitas bertitik pada pembelajaran melalui keterlibatan
aktif
dalam pemberian informasi yang diberikan oleh guru. Dalam konteks ini siswa
diharapkan
untuk aktif terlibat dengan musik baik secara mental maupun fisik.
Pembelajaran
seni musik berbasis action learning, dilakukan dengan cara
guru
memberikan pengalaman musikal secara langsung kepada siswa dengan tujuan
agar
para siswa dapat membangun konsep-konsep musik dalam dirinya. Oleh karena
itu
wujudnya bukan seperangkat aturan verbal, pernyataan atau definisi yang
dicontohkan,
gambar/simbol-simbol musik yang diajarkan melalui pengalaman,
namun
demikian pengalaman itu sendiri yang akan secara aktif berinteraksi, mengatur,
dan
bertindak atas realitas. Konsep-konsep musik tidak diajarkan secara langsung
tapi
merupakan
formulasi unik yang dipelajari oleh siswa berdasarkan tindakan langsung
22
dengan
atau pada bahan musik (Regelski, 1981:12-13).
Dalam
dokumen yang berdasar pada keputusan Regional Conference on Art
Education
yang
diselenggarakan oleh UNESCO di Nadi, Fiji pada tanggal 25-29
November
2002, disebutkan bahwa pembelajaran musik meliputi, (1) Listening and
responding,
(2) Singing, (3) Playing, (4) Creating, (5) Reading and recording, (6)
Analysing
and appreciating.
Sedangkan
pendekatan yang digunkanakan dalam pembelajaran musik tersebut
dapat
berupa, (1) mengkolaborasikan seni yang berbeda, (2) pembelajaran individu
maupun
grup dalam komposisi dan penampilan, (3) Evaluasi Kritis, (4) Improvisasi,
(5)
peningkatan kemampuan pendengaran, (6) pembelajaran kawan sebaya, (7)
percontohan,
(8) evaluasi secara mandiri dan teman sebaya, (9) diskusi grup yang
terpusat
pada kegiatan mendengar, misalnya mengidentifikasi dan mendeskripsikan
elemen
musik, kegunaan musik dan lain-lain.
Jamalus
(1988:2) menyatakan bahwa, pemahaman unsur-unsur musik akan
diperoleh
melalui pengajaran yang dinamakan teori musik dasar. Pengajaran teori
musik
dasar ini dapat memberikan pemahaman yang bermakna bagi seseorang jika ia
telah
mengalami serta menghayati fungsi unsur-unsur musik itu dalam lagu yang
dipelajarinya.
Jadi, untuk memperoleh pemahaman yang bermakna , unsur-unsur
musik
itu haruslah diberikan melalui pengalaman musik.
Pengalaman
musik adalah sebuah proses menghayati suatu karya musik melalui
kegiatan
mendengarkan , bernyanyi, bermain musik, bergerak mengikuti musik, serta
membaca
musik, sehingga siswa mendapat gambaran menyeluruh tentang ungkapan
karya
musik tersebut. Pengalaman musik melalui pengamatan yang sadar akan
meninggalkan
perbendaharaan bermacam-macam unsur musik di dalam ingatan
siswa.
Pembelajaran
musik adalah pembelajaran tentang bunyi. Apa pun yang dibahas
dalam
suatu pembelajaran musik haruslah bertitik tolak dari bunyi itu sendiri. Unsur
yang
paling dasar dan sangat penting dalam suatu lagu adalah irama dan melodi.
Dalam
kegiatan bernyanyi atau bermain musik kita harus dapat merasakan gerak
irama
lagu dan ayunan biramanya, serta dapat membayangkan nada dan melodi lagu
tersebut
dalam pikiran atau khayalan kita. Kedua hal itu dapat dicapai dengan
pengalaman
musik.
Berikut
ini merupakan beberapa kegiatan untuk pengalaman musik:
1. Mendengarkan
musik, seperti yang disampaikan Jamalus (1988:43) semua segi
pendidikan
musik memerlukan keterampilan mendengarkan. Mendengarkan musik
bukanlah
merupakan hal yang aneh saat ini. Kita sering mendengarkan musik dari
televisi,
radio, mp3 player, dan berbagai macam media rekam. Di berbagai tempat
baik
dibidang layanan jasa, perdagangan, perbankan telah dilengkapi dengan
pemutaran
musik untuk menyegargan suasana. Cara mendengarkan musik yang akan
diajarkan
kepada siswa adalah untu memupuk dan meningkatkan rasa keindahan
musik,
serta memberi pengetahuan dan pemahaman tentang unsur-unsur musik
melalui
bunyi musik yang didengarkan.
2. Bernyanyi,
merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi peserta didik, dan
pengalaman
bernyanyi ini memberikan kepuasan. Bernyanyi juga merupakan alat
bagi
anak untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
3. Bermain
musik, kegiatan ini akan memberikan pengalaman yang dapat
meningkatkan
minat siswa dalam belajar musik. Bermacam-macam alat musik yang
dapat
digunakan dalam kelas dapat dikelompokkan atas tiga golongan, yaitu alat
musik
irama, alat musik melodi, dan alat musik harmoni.
4. Bergerak
mengikuti musik, yang meliputi 2 macam, yaitu (1) Gerak di tempat,
dan
(2) gerak berpindah. Kegiatan ini diberikan untuk memupuk, meningkatkan, serta
memantabkan
pemahaman dan penghayatan rasa unsur-unsur musik kepada siswa.
5. Membaca
musik, keterampilan membaca musik akan dapat membuka pintu bagi
anak
untuk meningkatkan pemahamannya tentang musik.
3. Penerapan Pembelajaran Seni Musik Berbasis Action
Learning di SMA
Pendekatan
action learning dan Pembelajaran Musik Melalui Pengalaman
Musik
yang dikonsepkan oleh Jamalus, keduanya memiliki kesamaan yaitu
menerapkan
konsep "learning by doing". Dalam pendekatan action
learning juga
menitik
beratkan pada pengalaman musik dan keterlibatan aktif siswa dalam
bermusik.
Keduanya memiliki konsep yang sama namun dengan istilah yang berbeda.
Pembelajaran
seni musik di sekolah menengah atas (SMA) yang merupakan sub
mata
pelajaran seni budaya seharusnya dilaksanakan dengan mengkaitkan aspek
budaya
sebagai konteksnya. Oleh karena itu, pembelajaran seni musik yang dirancang
dengan
mengacu pada pembelajaran yang berbasis action learning sangat sesuai.
Karena
pembelajaran berbasis action learning harus dilakukan dengan cara
mencari
koneksi
sedekat mungkin atau relevansi antara materi pembelajaran dengan
kehidupan
nyata siswa dalam berbagai situasi (Regelski, 1981: 18)
4. Karakteristik Siswa SMA
Usia
siswa SMA secara umum berada pada rentang 15/16-18/19 tahun yang
kerap
disebut sebagai usia remaja, oleh karena itu sebelum kita membahas lebih
lanjut
mengenai karakteristik siswa SMA atau karakteristik seorang remaja kita akan
bahas
terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan usia remaja itu.
Menurut
Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18
tahun.
Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun.
Sedangkan
menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada
rentang
12-23 tahun.
Menurut
Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau
pencarian
identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang
menemukan
bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity
diffusion/
confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock,
2003,
Papalia,
dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang
sedang
berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah
pada
diri remaja.
Berikutnya
kita akan mulai membahas karakteristik dari remaja. Dari beberapa
pengertian
di atas masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia
yang
batasan usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Masa remaja ini
sering
dianggap sebagai masa peralihan, dimana saat-saat ketika anak tidak mau lagi
diperlakukan
sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum
dapat
dikatakan orang dewasa.
Fase-fase
masa remaja menurut Monks dkk. (2004) dibatasi antara usia 12-21
tahun,
dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun
termasuk
masa remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir.
Karakteristik
yang menonjol pada anak usia sekolah menengah adalah sebagai
berikut:
(1) Adanya kekurangseimbangan proporsi tinggi dan berat badan, (2) Mulai
timbulnya
ciri-ciri sekunder, (3) Timbulnya keinginan untuk mempelajari dan
menggunakan
bahasa asing, (4) Kecenderungan ambivalensi antara keinginan
menyendiri
dengan keinginan bergaul dengan orang banyak serta antara keinginan
untuk
bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua,
(5)
Senang membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika, atau norma dengan
kenyataan
yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa, (6) Mulai mempertanyakan
secara
skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan
Tuhan,
(7) Reaksi dan ekspresi emosi masih labil, (8) Kepribadiannya sudah
menunjukkan
pola tetapi belum terpadu, (9) Kecenderungan minat dan pilihan karier
sudah
relatif lebih jelas.
Karakteristik-karakteristik
tersebut akan mendatangkan implikasi bagi
kehidupannya,
salah satu implikasi dari karakteristik siswa SMA tersebut terhadap
pendidikan
adalah remaja memerlukan orang yang dapat membantunya mengatasi
kesukaran
yang dihadapi. Pribadi pendidik (sebagai pendukung nilai) berpengaruh
langsung
terhadap perkembangan pendirian hidup remaja. Karena itu, segala sikap
dan
perilaku pendidik harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi pendidikan.
Pendidik
hendaknya: (1) berdiri ’di samping’ mereka, tidak di depannya melalui
dikte
dan instruksi; (2) menunjukkan simpati bukan otoritas, sehingga dapat
memperoleh
kepercayaan dari remaja dan memberinya mereka bimbingan; serta (3)
menanamkan
semangat patriotik dan semangat luhur lainnya karena ini memang
masanya.
Menurut
Hunkins (1980), secara mental siswa SMA cenderung berkarakteristik
sebagai
berikut: (1) individu dilanda kerisauan untuk menemukan jati diri dan tujuan
hidup
mereka, (2) keadaan mental remaja itu terus berlanjut dan untuk berusaha keras
suntuk
menjadi mandiri, (3) dalam melepaskan ketergantungan dari orang dewasa,
pelbagai
individu ini kerap memperlihatkan perubahan mood yang ekstrem, dari yang
kooperatif
hingga yang suka memberontak, (4) kendali untuk dapat diterima
lingkungan
masih kuat, dan individu-individu itu sangat memperhatikan popularitas,
terutama
bagi kalangan yang berbeda kelamin; serta, (5) berbagai individu sering
mengalami
beberapa masalah dengan membuat penilaian sendiri.
Dengan
kata lain usia siswa SMA cenderung memiliki karakter yang labil, dan
riskan.
Karena dalam usia tersebut merupakan masa peralihan dari anak-anak ke
dewasa,
yang mulai terjadi perubahan-perubahan baik sikap/perilaku, cara pikir, dan
emosi.
Pembelajaran seni musik untuk siswa SMA hendaknya juga menyesuaikan
fase
psikologis dalam usia tersebut. Pembelajaran musik dengan keterlibatan
langsung
siswa dengan aktivitas-aktivitas musik diharapkan dapat membentuk siswa
untuk
kreatif, mandiri, dan mampu memahami pembelajaran dengan konsep
seutuhnya.
5.
Kendala dalam Penerapan Pembelajaran Seni
Musik Berbasis Action
Learning
Berdasarkan
wawancara dan pengamatan dalam proses pembelajaran seni musik
berbasis
action learning yang menggunakan gitar dengan media Kamogi pada kelas
XI di
SMA Negeri 1 Ngawi mengalami kendala- kendala yang terjadi selama proses
pembelajaran
berlangsung. Kendala-kendala tersebut disebabkan oleh beberapa faktor
antara
lain :
a. Faktor
Siswa
Siswa
merupakan subjek didik, artinya sebagai individu yang sedang mengalami
proses
pembelajaran. Untuk itu dalam proses belajar mengajar, kegiatan siswa perlu
mendapatkan
perhatian dan pengawasan dari guru. Karena dalam proses
pembelajaran
yang sedang berlangsung kadang siswa tidak berkonsentrasi pada
materi
tersebut. Maka guru perlu mencari jalan keluar supaya siswa dapat
berkonsentrasi
dalam menerima materi, agar hasil pembelajaran dapat tercapai.
b. Faktor
Guru
Guru
sangat berperan dalam setiap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Utamanya
apabila guru kurang memperhatikan waktu dalam proses pembuatan media
Kamogi
atau kurang terencanakan, maka hasilnya akan menjadi kurang efektif.
Apabila
kurang memahami konsep pembuatan sampai pemakaian alat Kamogi, media
ini
menjadi sangat kurang bermakna (kurang mempunyai arti).
c. FaktorAlat
Kekurangan
alat musik gitar menjadi kendala utama dalam pembelajaran. Akan
tetapi
hal tersebut dapat teratasi dengan media kamogi. Beberapa kendala juga
muncul
dari media kamogi, yang antara lain (1) fingerboard, (2) fret, (3) nut, (4)
Marcas/marks.
Apabila
fingerboard panjangnya kurang dari 40 cm, maka akan mengganggu
dalam
proses latihan posisi. Apabila bentuk fingerboard kotak akan menghambat
dalam
latihan prigresi akor, karena tangan kiri ketika bergerak akan tersangkut kayu
fingerboard.
Ukuran
Fret yang tidak sesuai dengan lebar ukuran standar
Kamogi
atau Neck gitar yang sesungguhnya, akan mengakibatkan gangguan dalam
fingering
untuk membuat posisi akor. Pemasangan Nut yang terlalu tinggi
mengakibatkan
gangguan dalam berlatih fingering. Karena terlalu jauh jarak antara
fingerboard
dengan
senar. Pemasangan Nut yang terlalu rendah mengakibatkan
gangguan
dalam berlatih fingering. Karena mengakibatkat sentuhan senar pada jari
kurang
berdampak atau kurang terasa pada syaraf jari tangan kiri, sewaktu menekan
senar.
Marcas yang terlalu lebar akan mengganggu dalam penjarian akor apalagi
yang
jari-jarinya
pendek. Apabila terlalu sempit akan mengganggu dalam penjarian akor.
Untuk
yang ukuran jarinya panjang.
Selain
itu, media kamogi tidak dapat menghasilkan bunyi yang sama dengan gitar.
Oleh
karena hal tersebut dalam pembelajaran, guru harus selalu menyertai dengan
memainkan
gitar agar siswa mempunyai gambaran-gambaran bunyi akord yang
dipelajarinya.
d. Faktor Penjarian
Beberapa
kendala pembelajaran gitar dengan media kamogi ini juga muncul pada
penjarian
baik tangan kiri maupun kanan. Jika jari-jari tangan kiri menekannya senar
kurang
atau kuat, hasilnya menjadi tidak maksimal. Jika jari 1,2,3,4 tangan kiri kaku,
hasilnya
juga kurang maksimal. Jika jari tangan kiri ada kukunya, akan sangat
mengganggu
sekali dalam proses fingering.
Sedangkan
untuk tangan kanan, apabila siswa kurang memahami ritme, maka
waktu
proses strumming berlangsung akan terkendala dengan ketuakan (tempo)
yang
tidak
pas. Sehingga hasil ritme kedengaran tidak rata. Untuk jari P.I.M.A yang kaku
akan
mengganggu dalam proses latihan memainkan lagu denga teknik petikan.
BAB
III
PENUTUP
a) Kesimpulan
Proses
pembelajaran action learning berpusat pada kegiatan bermain gitar
dengan
menggunakan media kamogi melalui beberapa tahap yaitu: tahap pengenalan
alat,
tahap pengenalan macam dan jenis bunyi akord, tahap penjarian, tahap latihan
perpindahan
akord, tahap latihan ritmik atau strumming, tahap aplikasi atau terapan,
dan
tahap transfer ke gitar yang sesungguhnya. Dalam pembelajaran ini aktivitas
musikal
utama yang digunakan adalah bermain alat musik gitar. Namun ada beberapa
aktivitas
musikal lainnya yang menunjang seperti bernyanyi, dan mendengarkan. Hal
ini
dikarenakan media kamogi yang digunakan tidak menghasilkan bunyi seperti
halnya
gitar.
Kendala
yang muncul dari siswa adalah minat dan konsentrasi siswa yang kurang
dalam
belajar gitar dengan media kamogi akan sangat berpengaruh sekali dalam
ketercapaian
proses belajar mengajar. Sedangkan kendala yang muncul dari faktor
pendidik
adalah kurangnya pengertian konsep dalam proses pembuatan dan
pemahaman
konsep pemakaian media kamogi akan menjadi kurang efektif dan
kurang
mempunyai makna. Serta faktor penjarian muncul dari jari-jari tangan kiri
yang
kaku dan ada kukunya akan sangat mengganggu dalam latihan fingering
maupun
proses latihan akord, serta jari-jari tangan kanan yang kaku akan
mengganggu
latihan struming maupun dalam latihan teknik petikan.
Faktor-faktor
utama dalam action learning yang meliputi task, team, serta
thougful
action telah
dilaksanakan dalam pembelajaran seni musik di SMA. Hal tersebut tercermin
dengan adanya tugas-tugas yang diberikan guru
dengan
melibatkan keaktifan siswa melakukan kegiatan-kegiatan musik dalam
pembelajaran.
Kekurangan terdapat pada aspek team, yang dalam pelaksanaannya
belum
ada tugas dalam kelompok-kelompok kecil untuk memaksimalkan
pembelajaran.
Thoughtful action tercapai dengan adanya kemampuan siswa
merefleksikan
pemahaman apa yang telah didapatnya.
b) Saran
Dalam
hal pelaksanaan guru sebaiknya memaksimalkan semua pendekatan dengan aktivitas
musikal
dalam pembelajaran seni musik, terutama untu membentuk tim-tim kecil
dengan
tugas yang berbeda agar memperoleh pemahaman yang beragam. Sedangkan
dalam
hal penilaian, hendaknya guru lebih terperinci dalam membuat kriteria
penilaian
agar tampak terlihat tercapai atau tidaknya indikator pembelajaran.
Bagi
siswa, hendaknya mencoba semua aktivitas musikal untuk menambah
pemahaman
mengenai musik, mengembangkan keterampilan musik, dan sebagai
aktualisasi
diri secara positif.
Jasa Pembuatan Aplikasi Multimedia Pembelajaran Interaktif Flash Android
ReplyDeleteInfo & Pemesanan - WA. 0815 797 4549
www.pscindonesia.com